Kejadian ini terjadi beberapa hari yang lalu, waktu itu saya lagi di bengkel ngerjain PA (Proyek Akhir, Alhamdulillah akhirnya selesai juga). Dari kejadian yang terlihat sepele ini saya ngambil sedikit pelajaran tentang pencapaian tujuan.
Jadi waktu itu ada beberapa temen saya juga yang lagi sibuk ngerjain PA-nya. Salah satu temen saat itu memakai celana jeans dengan ritsleting yang terbuka. Beberapa orang temen pun mulai ramai ada yang mengingatkan (memberitahu) sampai mengolok-olok.
Tapi temen saya tu tetep aja fokus dengan apa yang sedang dia kerjakan. Seolah ga peduli dengan ejekan teman2 di sekitarnya dia tetap dengan santai meneruskan PA-nya.
Hingga ketika itu saya berdua dengan dia, lantas saya tanya “kenapa ga dinaikkin sih ritsletingnya? Dengan santai dia menjawab “abis percuma dinaikkin, ntar juga turun lagi, daripada repot naikkin terus mending dibiarin. Toh pake celana pendek koq di dalem.”
Jawaban temen tersebut langsung membuat saya tersadar bahwa ternyata selama ini saya terlalu sibuk memikirkan hal yang remeh temeh. Melupakan tujuan besar sebenarnya. Terlalu fokus pada hal – hal yang memang tidak terlalu penting hingga akhirnya tenaga terkuras habis untuk memikirkan masalah tersebut, konsentrasi tercurahkan ke masalah yang sepele.
Kalau kata ustad Anis Matta, orang yang seperti itu seperti orang yang sedang dalam perjalanan tapi terlalu banyak waktu yang terbuang percuma dalam perjalanan tersebut. Ketika ada tabrakan di jalan ia berhenti sebentar untuk sekedar melihat padahal tabrakan tersebut tidak ada hubungannya dengan pencapaian tujuannya. Begitupun ketika sampai pada suatu tempat dengan pemandangan yang indah, ia berhenti pula hanya sekedar untuk mengaguminya. Hingga memang pada akhirnya ia sampai pada tujuan tapi dalam waktu yang sangat lama.
Dan ini memang banyak terjadi diantara kita, sibuk debat kusir tentang permasalahan yang tidak penting tapi melalaikan tugas, amanah serta tanggung jawab yang berada di pundak kita.
Saatnya berbuat, fokus dengan tujuan kita, tinggalkan hal-hal yang tidak penting karena dengan itulah kita kan terakselerasi dalam pencapaian tujuan.
Jadi waktu itu ada beberapa temen saya juga yang lagi sibuk ngerjain PA-nya. Salah satu temen saat itu memakai celana jeans dengan ritsleting yang terbuka. Beberapa orang temen pun mulai ramai ada yang mengingatkan (memberitahu) sampai mengolok-olok.
Tapi temen saya tu tetep aja fokus dengan apa yang sedang dia kerjakan. Seolah ga peduli dengan ejekan teman2 di sekitarnya dia tetap dengan santai meneruskan PA-nya.
Hingga ketika itu saya berdua dengan dia, lantas saya tanya “kenapa ga dinaikkin sih ritsletingnya? Dengan santai dia menjawab “abis percuma dinaikkin, ntar juga turun lagi, daripada repot naikkin terus mending dibiarin. Toh pake celana pendek koq di dalem.”
Jawaban temen tersebut langsung membuat saya tersadar bahwa ternyata selama ini saya terlalu sibuk memikirkan hal yang remeh temeh. Melupakan tujuan besar sebenarnya. Terlalu fokus pada hal – hal yang memang tidak terlalu penting hingga akhirnya tenaga terkuras habis untuk memikirkan masalah tersebut, konsentrasi tercurahkan ke masalah yang sepele.
Kalau kata ustad Anis Matta, orang yang seperti itu seperti orang yang sedang dalam perjalanan tapi terlalu banyak waktu yang terbuang percuma dalam perjalanan tersebut. Ketika ada tabrakan di jalan ia berhenti sebentar untuk sekedar melihat padahal tabrakan tersebut tidak ada hubungannya dengan pencapaian tujuannya. Begitupun ketika sampai pada suatu tempat dengan pemandangan yang indah, ia berhenti pula hanya sekedar untuk mengaguminya. Hingga memang pada akhirnya ia sampai pada tujuan tapi dalam waktu yang sangat lama.
Dan ini memang banyak terjadi diantara kita, sibuk debat kusir tentang permasalahan yang tidak penting tapi melalaikan tugas, amanah serta tanggung jawab yang berada di pundak kita.
Saatnya berbuat, fokus dengan tujuan kita, tinggalkan hal-hal yang tidak penting karena dengan itulah kita kan terakselerasi dalam pencapaian tujuan.
1 komentar:
aku sbg mahasiswa keperawatan nggak setuju dengan analogi yg digunakan "kecelakan di tengah jalan". klo aku sih lbh milih melihat lalu klo pun korban sudah tertolong kita bisa tahu kronologi dari kejadian. krn kami biasanya menggunakan pengalaman2 yg kami temui sbg pelajaran untuk dipraktekkan. jadi nggak ada slh nya klo kita melihat. mana tahu aja yg kecelakaan itu saudara or kenalan kita. gmn coba?
Posting Komentar