Bagi seluruh orang tua, guru, fasilitator dan profesi lain yang berhubungan dengan anak2 jangan pernah lagi menceritakan dongeng ”Si Kancil MencuriTimun”. Karena dongeng itu udah ga relevan lagi untuk penanaman nilai ke anak2 penerus bangsa.
Dahulu, -kira – kira- dongeng tersebut diceritakan untuk membangkitkan keberanian dan kecerdikan kaum pribumi (yang lemah, kecil) melawan penjajah (yang jauh lebih kuat, berkuasa).
Nah, sekarang sudah berbeda zamannya. Cerita si kancil akan menanamkan nilai2 yag cenderung negatif di pikiran bawah sadar anak2 kita. Dalam cerita kancil selalu digambarkan sebagai hewan yang cerdas, lincah, sekaligus licik, amat pintar menipu dan mencuri serta selalu lihai berkelit dari hukuman.
Watak2 seperti ini yang nantinya membentuk anak2 kita ketika sudah dewasa kelak. Di mata mereka kancil adalah sosok yang menarik dan mengagumkan. Proses sosialisasi dan internalisasi nilai ”kancil” ini pada urutannya membentuk persepsi bahwa mencuri itu seni dan kepintaran yang merupakakn keunggulan seseorang.
Maka wajar saja jika sekarang ini pemimpin elit kita-ato bahkan kita juga-banyak yang senang mencuri, mencuri dengar, mencuri harta negara, mencuri jawaban orang, mencuri ide dsb. Diperparah lagi ketika muncul rasa bangga jika berhasil dan pandai berkelit seperti kancil dalam cerita yang dulu sering diceritakan. Karena itu perlu dipertimbangkan untuk mengubur dongeng anak2 seperti ”kancil sang pencuri”.
Selain dongeng kancil, ada baiknya juga menghindari dongeng2 tentang dunia gaib, semacam wangsit, kesaktian dan peri baik yang bisa mendatangkan kemudahan secara instan.
Ceritakanlah dongeng yang membangkitkan etos kerja keras dalam meraih sukses, karena 90% keberhasilan kita ditentukan oleh kerja keras sisanya tergantung keberuntungan dan kemurahan Alloh SWT,,
Dahulu, -kira – kira- dongeng tersebut diceritakan untuk membangkitkan keberanian dan kecerdikan kaum pribumi (yang lemah, kecil) melawan penjajah (yang jauh lebih kuat, berkuasa).
Nah, sekarang sudah berbeda zamannya. Cerita si kancil akan menanamkan nilai2 yag cenderung negatif di pikiran bawah sadar anak2 kita. Dalam cerita kancil selalu digambarkan sebagai hewan yang cerdas, lincah, sekaligus licik, amat pintar menipu dan mencuri serta selalu lihai berkelit dari hukuman.
Watak2 seperti ini yang nantinya membentuk anak2 kita ketika sudah dewasa kelak. Di mata mereka kancil adalah sosok yang menarik dan mengagumkan. Proses sosialisasi dan internalisasi nilai ”kancil” ini pada urutannya membentuk persepsi bahwa mencuri itu seni dan kepintaran yang merupakakn keunggulan seseorang.
Maka wajar saja jika sekarang ini pemimpin elit kita-ato bahkan kita juga-banyak yang senang mencuri, mencuri dengar, mencuri harta negara, mencuri jawaban orang, mencuri ide dsb. Diperparah lagi ketika muncul rasa bangga jika berhasil dan pandai berkelit seperti kancil dalam cerita yang dulu sering diceritakan. Karena itu perlu dipertimbangkan untuk mengubur dongeng anak2 seperti ”kancil sang pencuri”.
Selain dongeng kancil, ada baiknya juga menghindari dongeng2 tentang dunia gaib, semacam wangsit, kesaktian dan peri baik yang bisa mendatangkan kemudahan secara instan.
Ceritakanlah dongeng yang membangkitkan etos kerja keras dalam meraih sukses, karena 90% keberhasilan kita ditentukan oleh kerja keras sisanya tergantung keberuntungan dan kemurahan Alloh SWT,,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar