Batam Pos kemaren isinya tentang penangkapan preman di Indonesia. Sekitar 3 ribuan orang ditangkapi karena disinyalir preman. Secara pribadi ane dukung apa yang dilakukan polisi tentang perang terhadap preman.
Di beberapa daerah juga ga kalah, razia preman dilakukan di pasar2. mereka yang tidak punya kartu identitas, bertato dan ciri2 preman lainnya ditangkapi ato dibawa ke kantor polisi hanya uuntuk sekedar dimintai keterangannya.
Penangkapan seorang kepala preman di Jakarta karena kasus pengeroyokan pengusaha makin menunjukkan keseriusan polisi memerangi premanisme. “kita ingin menunjukkan tidak ada preman yang kebal hukum” kata salah seorang pejabat polisi.
Ini yang kemudian perlu dipertanyakan!
Benarkah apa yang telah mereka lakukan sudah menunjukkan totalitas sikap perang terhadap premanisme?
Benarkah orang2 bertato dengan tampang sangar itu adalah preman yang kerjaannya cuman males2an dan mengintimidasi orang untuk dapet sedikit uang?
Di daerah Jawa sana ada seorang tukang becak yang badannya penuh tato, bertampang sangar tapi tetap memilih menjadi seorang pengayuh becak ketimbang preman.
Ato seperti yang teman ane ceritakan tentang seorang dengan tindik di telinga, baju seadanya, celana bolong disuruh jadi imam saat sholat maghrib di mushola mall karena orang2 berpakaian rapi serta necis lainnya tidak pada becus dan PD baca surat fatihah dan surat pendek lainnya yang dikeraskan.
Lantas kenapa mereka memilih berpenampilan seperti itu?
O, ini jelas karena manusia Indonesia membutuhkan hiburan akibat dikepung banyak tekanan. Karena tertekan oleh kemiskinan maka seseorang butuh menjadi seolah-olah kuat, keren dan jagoan. Tato dan pakaian nyeleneh itu hanya sebagai penentram saja, fungsinya sama seperti bedak yang mendadak membuat cantik cewek yang make’ dan lipstik yang bisa bikin bibir tiba2 jadi sensual.
Ane pikir tidak adil misalnya kalo polisi itu hanya merazia preman2 kecil di pasar, halte ato tempat umum lainnya tanpa merazia mereka, preman sebenarnya yang merugikan negeri ini lebih banyak ketimbang preman2 kelas teri itu. Preman yang lebih memilih dasi ketimbang tato untuk menunjukkan identitas kepremanannya.
Di beberapa daerah juga ga kalah, razia preman dilakukan di pasar2. mereka yang tidak punya kartu identitas, bertato dan ciri2 preman lainnya ditangkapi ato dibawa ke kantor polisi hanya uuntuk sekedar dimintai keterangannya.
Penangkapan seorang kepala preman di Jakarta karena kasus pengeroyokan pengusaha makin menunjukkan keseriusan polisi memerangi premanisme. “kita ingin menunjukkan tidak ada preman yang kebal hukum” kata salah seorang pejabat polisi.
Ini yang kemudian perlu dipertanyakan!
Benarkah apa yang telah mereka lakukan sudah menunjukkan totalitas sikap perang terhadap premanisme?
Benarkah orang2 bertato dengan tampang sangar itu adalah preman yang kerjaannya cuman males2an dan mengintimidasi orang untuk dapet sedikit uang?
Di daerah Jawa sana ada seorang tukang becak yang badannya penuh tato, bertampang sangar tapi tetap memilih menjadi seorang pengayuh becak ketimbang preman.
Ato seperti yang teman ane ceritakan tentang seorang dengan tindik di telinga, baju seadanya, celana bolong disuruh jadi imam saat sholat maghrib di mushola mall karena orang2 berpakaian rapi serta necis lainnya tidak pada becus dan PD baca surat fatihah dan surat pendek lainnya yang dikeraskan.
Lantas kenapa mereka memilih berpenampilan seperti itu?
O, ini jelas karena manusia Indonesia membutuhkan hiburan akibat dikepung banyak tekanan. Karena tertekan oleh kemiskinan maka seseorang butuh menjadi seolah-olah kuat, keren dan jagoan. Tato dan pakaian nyeleneh itu hanya sebagai penentram saja, fungsinya sama seperti bedak yang mendadak membuat cantik cewek yang make’ dan lipstik yang bisa bikin bibir tiba2 jadi sensual.
Ane pikir tidak adil misalnya kalo polisi itu hanya merazia preman2 kecil di pasar, halte ato tempat umum lainnya tanpa merazia mereka, preman sebenarnya yang merugikan negeri ini lebih banyak ketimbang preman2 kelas teri itu. Preman yang lebih memilih dasi ketimbang tato untuk menunjukkan identitas kepremanannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar