Desember 01, 2008

NGARET...!!!


On time jam 8 ya..?
Afwan y kayaknya telat nih..
Gimana dah mulai acaranya? Sori telat..
Alah paling ngaret, biasa Indonesia..

Susah memang sepertinya orang – orang di negara ini untuk menghargai waktu. Sekalipun dia aktivis yang terlihat keren dan selalu meneriakkan protes serta menuntut perbaikan. Ada saja alasan untuk tidak datang atau terlambat dalam sebuah rapat.

Diadakan jam 8 datang jam 9, kalo diadakan jam 9 datangnya jam 10. selalu beranggapan “ah, paling yang lain belum ngumpul.” Gimana mau ngumpul kalau setiap individu berpikiran seperti ini.

Ini yang saya alami 2 hari ini. Pelatihan itu dan rapat hari ini membuktikan bahwa negara ini memang senang dengan predikatnya sebagai negara berkembang. Tidak ada upaya nyata untuk menjadi negara maju.

Semua elemen di negara ini memang tidak menginginkan hal itu terjadi. Dan parahnya virus ini juga ternyata menjangkiti para aktivisnya (di Batam khususnya, wallahualam kalau di luar Batam).

Wacana tentang upaya menuju negara maju hanyalah sekedar lips service tanpa ada upaya nyata. Menjadi otokritik kepada kita semua –khususnya para aktivis- yang selalu menggembar-gemborkan perubahan, bercita-cita melakukan perbaikan, dan menjadi seorang negarawan.

Jepang, negara yang pernah menjajah bangsa ini. Sekarang menjadi negara yang leading dalam teknologi. Semua orang mengenal jepang sebagai tempat dilahirkannya teknolog baru. Dan duniapun mengakui itu. Jauh sebelum itu, mereka pernah mengalami keterpurukan karena 2 kotanya di luluh lantakkan oleh Amerika.

Putus asakah mereka? Tidak! Aspek pendidikan jadi perhatian utama, kedisiplinan mereka bangun dalam setiap diri mereka, menghargai waktu merupakan hal yang utama. Hasilnya, lihat sekarang bagaimana mereka.

Negeri ini, yang –katanya- banyak orang ingin melakukan perubahan malah makin kacau saja setiap harinya. Wakil rakyatnya enggan hadir rapat kalau tidak menyangkut proyek, ormas agamanya sibuk berdebat hal yang tidak penting yang menggiring ke perpecahan umat, rakyat biasa terjebak dalam rutinitas sehingga mati kreatifitasnya, mahasiswanya sibuk memikirkan dirinya sendiri (Self Oriented –SO-) dan melupakan fungsi moralnya.

Bagaimana bisa melakukan perubahan kalau totalitas tidak diadakan? Bagaimana mungkin melakukan perubahan kalau pengorbanan tidak mau dilakukan?
Mengoleksi berjuta alasan menjadi watak setiap orang di negeri ini.

Akankah negara ini menjadi negara yang berisikan para PECUNDANG?

Tidak ada komentar: