Jalanan negeri ini menyimpan banyak cerita dan julukan. Dari kuburan masal hingga tempat menggantungkan hidup. Sebuah kondisi yang menarik memang, negeri yang bangkrut karena salah urus ini menyimpan berbagai keunikannya sendiri. Di saat banyak rakyat miskin yang pusing harus makan apa besok, deretan mobil mewah, motor serta kendaraan lain yang sudah tidak layak jalan masih antri memenuhi jalan raya hingga menyebabkan kemacetan. Ironis karena ternyata di tengah kemiskinan itu jumlah konsumsi kita akan kendaraaan tetaplah tinggi.
Bicara tentang kemacetan, ada 3 hal penyebabnya. Pertama, jumlah kendaraan yang membengkak, kedua rendahnya kedisiplinan dan ketiga pejabat lewat.
Kemacetan karena sebab yang ketiga sebenarnya tidak perlu terjadi kalau para pejabat itu memang peduli dengan rakyatnya. Mereka tidak perlu arogan meminta didahulukan lewat hingga mengorbankan kepentingan rakyatnya seperti karyawan, mahasiswa ataupun pelajar. Tindakan seperti ini jelas memperlihatkan sebuah implementasi dari kata zhalim.
Dibandingkan pejabat itu tentulah kepentingan rakyat lebih penting. Karyawan kantoran itu bisa terlambat ke kantor karena kemacetan tersebut hingga harus mendapatkan hukuman berupa pemotongan gaji, Surat peringatan atau mungkin pemecatan mungkin - Saya tidak akan membahas mahasiswa karena saat ini saya sedang apatis dengan yang namanya mahasiswa –
Kemudian pelajar, akibat kemacetan itu tentunya mereka akan mengalami permasalahan serupa yaitu terlambat. Lebih parah lagi kalau yang menjadi korban adalah pelajar SD yang kecil-kecil, sedang semangat menuntut ilmu dan patuh sekali kepada gurunya. Terlambat bagi mereka bisa merupakan suatu musibah, mereka bisa menangis meraung-raung hanya karena takut berdiri di depan kelas atau membacakan ikrar tidak akan terlambat di depan kelas. Anak-anak yang mulai belajar rasa malu. Rasa yang bahkan hampir dilupakan oleh para orang tua mereka bahkan mungkin oleh pejabat tadi.
Bagaimanapun, rakyat harus didahulukan kepentingannya karena peran dan fungsi pejabat tersebut sejatinya adalah melayani rakyat. Dilihat dari urgensi tentulah karyawan dan pelajar tadi berhak didahulukan dibanding pejabat itu. Karena mereka berada di pihak yang lemah dan takut. Pihak yang melulu akan terkena hukuman. Sedangkan pejabat itu dia lebih punya hak untuk menghukum dan ditakuti oleh bawahannya sehingga tidak ada alasan untuk terburu-buru.
Bicara tentang kemacetan, ada 3 hal penyebabnya. Pertama, jumlah kendaraan yang membengkak, kedua rendahnya kedisiplinan dan ketiga pejabat lewat.
Kemacetan karena sebab yang ketiga sebenarnya tidak perlu terjadi kalau para pejabat itu memang peduli dengan rakyatnya. Mereka tidak perlu arogan meminta didahulukan lewat hingga mengorbankan kepentingan rakyatnya seperti karyawan, mahasiswa ataupun pelajar. Tindakan seperti ini jelas memperlihatkan sebuah implementasi dari kata zhalim.
Dibandingkan pejabat itu tentulah kepentingan rakyat lebih penting. Karyawan kantoran itu bisa terlambat ke kantor karena kemacetan tersebut hingga harus mendapatkan hukuman berupa pemotongan gaji, Surat peringatan atau mungkin pemecatan mungkin - Saya tidak akan membahas mahasiswa karena saat ini saya sedang apatis dengan yang namanya mahasiswa –
Kemudian pelajar, akibat kemacetan itu tentunya mereka akan mengalami permasalahan serupa yaitu terlambat. Lebih parah lagi kalau yang menjadi korban adalah pelajar SD yang kecil-kecil, sedang semangat menuntut ilmu dan patuh sekali kepada gurunya. Terlambat bagi mereka bisa merupakan suatu musibah, mereka bisa menangis meraung-raung hanya karena takut berdiri di depan kelas atau membacakan ikrar tidak akan terlambat di depan kelas. Anak-anak yang mulai belajar rasa malu. Rasa yang bahkan hampir dilupakan oleh para orang tua mereka bahkan mungkin oleh pejabat tadi.
Bagaimanapun, rakyat harus didahulukan kepentingannya karena peran dan fungsi pejabat tersebut sejatinya adalah melayani rakyat. Dilihat dari urgensi tentulah karyawan dan pelajar tadi berhak didahulukan dibanding pejabat itu. Karena mereka berada di pihak yang lemah dan takut. Pihak yang melulu akan terkena hukuman. Sedangkan pejabat itu dia lebih punya hak untuk menghukum dan ditakuti oleh bawahannya sehingga tidak ada alasan untuk terburu-buru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar