Akhirnya saya tahu apa yang saya inginkan kemarin (18/12). Setelah sekian lama merasa ada yang kurang, kemarin saya benar-benar mengerti apa yang sebenarnya saya butuhkan selama ini.
Engku Putri, tempat kumpul orang – orang yang pengen internetan secara gratis memberikan jawaban tentang itu kemarin. Pertama nyampe disana saya langsung coba melupakan seluruh apa yang membebani selama ini. Sms serta telepon yang tak kunjung henti berdering tak saya gubris. Kala itu saya tak ingin diganggu.
Setelah agak lama searching berita, datanglah seorang teman. Saya menghentikan aktivitas ngenet saya sejenak dan larut dalam obrolan dan canda tawa bersama teman saya tersebut. Banyak hal yang saya bicarakan mulai dari masalah yang serius tentang kampus, bisnis hingga bahan obrolan picisan yang tak bermutu sama sekali.
Tak lama kemudian, di sebelah saya datang lagi seorang pria, tak bisa dibilang muda tapi tak tepat juga kalau disebut tua, pria paruh baya itu tepatnya. Kami –saya dan teman- tetap asik ngobrol hingga tanpa diminta tiba-tiba pria di sebelah saya yang kemudian saya tahu bahwa dia seorang aktivis LSM ini ikut nimbrung dalam pembicaraan kami.
Seketika itu saya diam, karena dilihat dari pertanyaan yang dia lontarkan saya langsung tahu dia bukan orang biasa. Akhirnya teman saya dan pria tadi yang ngobrol sedangkan saya hanya diam mendengarkan. Beberapa menit kemudian teman saya ini pamit karena ada urusan lain.
Tinggal saya berdua –yang 1 bangku- dengan pria itu. Saya melanjutkan aktivitas ngenet saya kembali, hingga akhirnya dia minta di-copy-kan lagu karena tidak ada lagu di laptopnya. Saya pun memberikannya. Kalimat-kalimat berikutnya yang dia lontarkan kemudian membuat saya harus menghentikan kembali aktivitas ngenet yang baru saya mulai. Sejurus kemudian saya langsung larut dalam obrolan bersama pria tadi. Lebrata, akhirnya saya tahu namanya.
Berbagai macam hal pembicaraan terutama masalah lingkungan jadi bahan obrolan kami. Terkait masalah limbah B3 yang semakin memenuhi batam, hingga ikan di wilayah perairan batam yang sudah tak layak di konsumsi lagi karena tercemar merkuri dari perusahaan shipyard yang banyak di Batam.
Permasalahan pemimpin muda pun tak luput dari topik pembicaraan yang kami bicarakan. Kebijakan pemerintah yang tak kunjung mensejahterakan masyarakat dan lainnya.
Hingga akhirnya dia bertanya tentang cita-cita ke saya. Pertanyaan yang saya sambut dengan diam beberapa saat. “saya ga tahu mau jadi apa abis tamat kuliah ini” jawab saya setelah agak lama. Lalu diapun mulai bercerita tentang dirinya, yang kemudian membuat saya mendengarkan sambil terus berpikir.
Setelah dia selesai bercerita tentang dirinya, tanpa ragu, entah kenapa saya langsung menceritakan impian dan cita-cita yang selama ini selalu saya khayalkan. Rencana-rencana masa depan saya, serta berbagai permasalahan yang saya hadapi selama ini. Setelah selesai menceritakan semuanya ada perasaan aneh kemudian yang menyelimuti saya. Perasaan lega yang amat sangat. Semua permasalahan yang ada saat itu rasanya hilang seketika. Sesuatu yang kemudian membuat saya tersadar bahwa yang saya butuhkan selama ini adalah orang yang bisa mendengarkan saya.
Sesuatu yang hilang, yang tak lagi saya temukan.
Dan akhirnya, kumandang adzan maghrib dari masjid raya menandai bahwa pertemuan kami hari itu harus berpisah. saya pun segera merapikan laptop dan bergegas pergi dari tempat itu. Angin laut yang sedari tadi bertiup kencang mengiringi saya pergi sembari membawa terbang berbagai permasalahan yang tadi membelit.
- maaf tuk seluruh teman yang tak terangkat telepon dan tak terbalas smsnya, karena saat itu saya benar-benar tak ingin diganggu.
Engku Putri, tempat kumpul orang – orang yang pengen internetan secara gratis memberikan jawaban tentang itu kemarin. Pertama nyampe disana saya langsung coba melupakan seluruh apa yang membebani selama ini. Sms serta telepon yang tak kunjung henti berdering tak saya gubris. Kala itu saya tak ingin diganggu.
Setelah agak lama searching berita, datanglah seorang teman. Saya menghentikan aktivitas ngenet saya sejenak dan larut dalam obrolan dan canda tawa bersama teman saya tersebut. Banyak hal yang saya bicarakan mulai dari masalah yang serius tentang kampus, bisnis hingga bahan obrolan picisan yang tak bermutu sama sekali.
Tak lama kemudian, di sebelah saya datang lagi seorang pria, tak bisa dibilang muda tapi tak tepat juga kalau disebut tua, pria paruh baya itu tepatnya. Kami –saya dan teman- tetap asik ngobrol hingga tanpa diminta tiba-tiba pria di sebelah saya yang kemudian saya tahu bahwa dia seorang aktivis LSM ini ikut nimbrung dalam pembicaraan kami.
Seketika itu saya diam, karena dilihat dari pertanyaan yang dia lontarkan saya langsung tahu dia bukan orang biasa. Akhirnya teman saya dan pria tadi yang ngobrol sedangkan saya hanya diam mendengarkan. Beberapa menit kemudian teman saya ini pamit karena ada urusan lain.
Tinggal saya berdua –yang 1 bangku- dengan pria itu. Saya melanjutkan aktivitas ngenet saya kembali, hingga akhirnya dia minta di-copy-kan lagu karena tidak ada lagu di laptopnya. Saya pun memberikannya. Kalimat-kalimat berikutnya yang dia lontarkan kemudian membuat saya harus menghentikan kembali aktivitas ngenet yang baru saya mulai. Sejurus kemudian saya langsung larut dalam obrolan bersama pria tadi. Lebrata, akhirnya saya tahu namanya.
Berbagai macam hal pembicaraan terutama masalah lingkungan jadi bahan obrolan kami. Terkait masalah limbah B3 yang semakin memenuhi batam, hingga ikan di wilayah perairan batam yang sudah tak layak di konsumsi lagi karena tercemar merkuri dari perusahaan shipyard yang banyak di Batam.
Permasalahan pemimpin muda pun tak luput dari topik pembicaraan yang kami bicarakan. Kebijakan pemerintah yang tak kunjung mensejahterakan masyarakat dan lainnya.
Hingga akhirnya dia bertanya tentang cita-cita ke saya. Pertanyaan yang saya sambut dengan diam beberapa saat. “saya ga tahu mau jadi apa abis tamat kuliah ini” jawab saya setelah agak lama. Lalu diapun mulai bercerita tentang dirinya, yang kemudian membuat saya mendengarkan sambil terus berpikir.
Setelah dia selesai bercerita tentang dirinya, tanpa ragu, entah kenapa saya langsung menceritakan impian dan cita-cita yang selama ini selalu saya khayalkan. Rencana-rencana masa depan saya, serta berbagai permasalahan yang saya hadapi selama ini. Setelah selesai menceritakan semuanya ada perasaan aneh kemudian yang menyelimuti saya. Perasaan lega yang amat sangat. Semua permasalahan yang ada saat itu rasanya hilang seketika. Sesuatu yang kemudian membuat saya tersadar bahwa yang saya butuhkan selama ini adalah orang yang bisa mendengarkan saya.
Sesuatu yang hilang, yang tak lagi saya temukan.
Dan akhirnya, kumandang adzan maghrib dari masjid raya menandai bahwa pertemuan kami hari itu harus berpisah. saya pun segera merapikan laptop dan bergegas pergi dari tempat itu. Angin laut yang sedari tadi bertiup kencang mengiringi saya pergi sembari membawa terbang berbagai permasalahan yang tadi membelit.
- maaf tuk seluruh teman yang tak terangkat telepon dan tak terbalas smsnya, karena saat itu saya benar-benar tak ingin diganggu.
1 komentar:
Pengalaman yang menarik.. Luar biasa saat ngebaca postingan ini .. :)
Posting Komentar