Januari 07, 2009

Negeri yang pejabatnya tak tahu diri..


Parlemen kita kini terkesan mewah. Gedung DPR RI Senayan bagai show room Mobil mewah. Padahal di Belanda, anggota parlemen tidak mendapat gaji dan tunjangan mobil. Mereka hanya mendapat schadeloosstelling (ganti rugi) yang cekak dan tunjangan yang zakelijk. "Jatah mobil dinas?" Demikian reaksi pertama Hugo van der Steenhoven, anggota partai Groenlinks, saat ditanya soal 'sarana mobilitas untuk menunjang tugas wakil rakyat' itu. "Ah, laat me niet lachen, meneer (Jangan membuat saya tertawa, pak.)" kata Van der Steenhoven.

Dijelaskan bahwa anggota parlemen Belanda itu bukan pegawai negara.Jadi jangankan mobil dinas, salaris (gaji) pun tidak ada. Istilah salaries menunjukkan bahwa anggota parlemen berdinas pada pihak tertentu. Sebagai imbalan jerih payah, anggota parlemen menerima apa yang disebut schadeloosstelling alias ganti rugi."Anggota parlemen sepatutnya kan independen dan oleh karena itu dia tidak berdinas pada pihak manapun," jelas dia.

Jadi untuk urusan mobil ke Gedung Parlemen di Binnenhof (Den Haag),Yang nyata-nyata demi kepentingan negara, itu menjadi tanggung jawab masing-masing anggota parlemen. Apalagi 'mobilitas untuk merawat konstituen', itu bukan menjadi tanggung jawab dan beban negara melainkan partai darimana mereka berasal. Disini logika yang dipakai simpel saja: urusan menemui konstituen adalah kepentingan partai, masa negara harus menanggung biayanya?

Negara hanya menyediakan uang ganti transport untuk kepentingan tugas anggota parlemen,besarnya 781,36 euro untuk yang bertempat tinggal dalam radius 10-15 kilometer dari Kompleks Parlemen Binnenhof (Den Haag),1.093,63 euro untuk radius 15-20 kilometer dan 1.562,72 euro untuk radius lebih dari 20 kilometer. Jumlah tersebut semuanya bruto untuk satu tahun. Untuk yang bertempat tinggal dalam radius 10 kilometer ke bawah, tidak masuk dalam ketentuan tersebut alias tidak mendapat apa-apa.

Makanya banyak anggota parlemen yang ngantor dengan naik trem, sejenis angkutan umum kota mirip kereta api tapi bentuknya lebih kecil. Jan Pronk, kini Minister van Volkshuisvesting, Ruimtelijke Ordening en Milieubeheer (Menteri Urusan Perumahan Rakyat, Tata Ruang, dan Pengelolaan Lingkungan), malah sering datang naik sepeda.

Demikian hati-hati dan ketatnya Belanda mengelola keuangan negara, sehingga pada tahun 2001 neraca keuangan negara surplus sampai 7 milyar gulden (mata uang euro belum diberlakukan). Kelebihan tersebut sebagian dikembalikan kepada rakyat sebagai uang surprised di mana tiap-tiap rumah tangga mendapat 100 gulden atau setara 100 kg gula. Sebagiannya lagi dipakai untuk pembayaran utang negara, agar secepatnya berkurang.

Mungkin Bila suatu saat nanti berkesempatan melancong ke Belanda, tidak ada salahnya mampir sebentar ke kompleks parlemen Binnenhof, di jantung kota Den Haag. Sekalian melakukan 'studi banding' dan setidak-tidaknya anda akan menyaksikan bahwa di halaman gedung parlemen negeri berpenghasilan 22.570 euro per kapita itu, tidak ada ditemukan mobil kelas Jaguar dan sejenisnya.

Bagaimana dengan parlemen kita?
(http://www.mail-archive.com/debritto@debritto.net/msg17925.html)

Masih Percaya Dukun..??


ada baiknya lebih berhati-hati dalam menentukan pilihan saat pemilu. perlu diteliti benar-benar, apakah yang kita pilih memang bisa menampung dan merealisasikan aspirasi kita atau hanya orang-orang tak bermoral yang jadi anggota dewan hanya untuk mencari kekuasaan.

berita pagi ini, benar-benar membuat saya geleng-geleng kepala. tak habis pikir. bagaimana mungkin seorang ketua DPD (non aktif sekarang), seorang intelektual, masih percaya dengan hal-hal yang berbau mistis. ah, sudah kacau sekali sepertinya negeriku ini.

berikut kutipan beritanya dari batam pos :
BATAM (BP) - Abdul Aziz benar-benar ingin menjadi miliarder di Batam. Tak puas menggandakan uang dalam rupiah, Ketua DPD (non Aktif) Partai Demokrat Kepri ini bahkan berniat menggandakan uang dolar Singapura. Tak tanggung-tanggung ia berencana menggandakan uangnya Rp1,3 miliar menjadi 10 miliar dolar Singapura.
(batampos.co.id. 07 januari 2009)

memalukan, orang yang mengaku sebagai intelektual. ketua perwakilan daerah sebuah partai besar. bahkan sempat menjadi calon anggota dewan ternyata masih melenguh pada hal-hal yang bersifat gaib. percaya bisa mendapatkan kekayaan dengan jalan pintas, pertolongan dari sesuatu yang tak jelas.

kalau mau kaya, KERJA...!!!

MENDEKATKAN SEKALIGUS MENJAUHKAN..

Dalam perjalanan saya untuk ngeblog kali ini (dapet tempat baru, di masjid raya. Adem, waktu sholatpun selalu update) saya berjumpa dengan 3 orang yang sibuk dengan handphonenya. Ada yang sibuk bertelepon, berkirim pesan hingga mengutak-atik handphonenya).

Saat ini, handphone memang sudah menjadi salah satu kebutuhan pokok bagi masyarakat perkotaan –masyarakat pedesaan juga kayaknya. Hampir setiap orang memilikinya. Ada yang sekedar buat gaya-gayaan, kebutuhan komunikasi, penunjang bisnis dan berbagai alasan lainnya.

Bagi saya sendiri alat yang satu ini amat penting keberadaannya. Ia bisa menjadi penyambung silaturahmi, pemberi nasihat, pelepas penat, bertukar informasi,dan sarana iseng ke orang lain. Ia bisa mendekatkan teman-teman, saudara dan keluarga yang jauh serta menjadi sarana mempererat ukhuwah antar sesama.

Hanya satu hal kebiasaan buruk saya, karena ternyata alat yang bisa mendekatkan yang jauh itu ternyata juga bisa menjauhkan mereka yang sudah dekat.

Kebiasaan buruk saya tersebut adalah ketika bertemu atau berhadapan dengan orang, saya sering memainkan handphone, fokus memperhatikan handphone saya-sekalipun tak ada pesan atau panggilan- dan cenderung mengabaikan orang yang ada di depan saya.

Beberapa kali hal ini terjadi. Sulit sekali rasanya menghilangkan kebiasaan buruk ini. Seringkali saya mengabaikan orang-orang yang memiliki perasaan, ingin dihargai dan memang berharga. Lebih sering menghargai sesuatu yang ternyata hanyalah benda mati.

Betapa ternyata teknologi masih sering dapat mengelabui saya. Membodohi dan memperdaya, sehingga tak tahu mana yang harus dihargai dan mana yang hanyalah benda yang tak begitu berharga.

Heartycraft



Postingan kali ini akan sangat berbanding terbalik dengan postingan saya sebelumnya. Heartycraft, kata ini cukup menampar saya atas apa yang telah saya lakukan selama ini. Ego yang selama ini selalu menjadi garda terdepan dalam setiap tindakan yang saya lakukan, menjadi penyebab dari segala sifat kekanakan yang sampai saat ini masih berhasil dengan sukses saya pertahankan. Lawan selalu menjadi kata ampuh yang selama ini saya pegang. Saya selalu merasa hidup di dunia idealis yang hanya berwarnakan hitam dan putih, padahal harusnya saya bisa lebih bijak bersikap. Bahwa hidup ini berwarna-warni, tak ubahnya pelangi, komposisi berbagai warnalah yang menjadikannya indah. Maka mungkin tak ada salahnya untuk mengalah.

Heartycraft. Benda apa ini sebenarnya?

Ini adalah sebuah kerajinan. Ya, sebuah bentuk kerajinan. Kerajinan yang tak terlihat tapi besar fungsinya dalam menciptakan harmonisasi kehidupan. Ia adalah kerajinan hati, dan salah satunya ialah mengalah. Mengalah yang sering masih dihubungkan dengan idealisme, prinsip dan harga diri menjadi hal yang mudah ketika heartycraft berhasil dikuasai. Bukan hal yang sulit memang menguasai kerajinan ini, satu saja caranya “menekan ego kita sejenak”. Itu saja, simple kan.

Ilustrasinya seperti ini. Harmonisasi kehidupan bisa dilihat dari rumus anti tabrakan. Tabrakan hanya terjadi kalau kedua pengendara sama-sama nekat. Harus ada satu yang nekat dan satu yang mengalah. Begitu saja, saling bergantian. Maka tabrakan pun akan tak akan pernah terjadi. Begitu juga dalam kehidupan, ketika menghadapi masalah maka harus ada satu orang yang nekat dan satu orang yang mengalah. Ketika orang lain mengalah maka kita tak perlu merasa menang dan super, begitupun sebaliknya, ketika kita yang harus mengalah maka tak perlu merasa sebagai pihak yang kalah, terhina dan harus marah.

Kerajinan hati inilah yang kemudian menjadi nilai termahal bagi seseorang yang memilikinya. Tak ada masalah yang terlihat rumit karena semua masalah terlihat mudah. Tak ada masalah yang besar karena semua yang besar bisa dibuat kecil. Tapi yah, tak banyak memang yang berhasil menguasai kerajinan yang satu ini. Seringkali kita merasa begitu benar hingga sulit bagi kita untuk mengalah ketika menghadapi suatu masalah. Tak perduli sekalipun hal yang kita lakukan tersebut adalah sebuah kejahatan. Kadang kita bukan hanya tak malu pada kejahatannya, melainkan malah menganggapnya sebagai prestasi. Hingga menjadi ciri khas masyarakat negeri ini hobi memperbesar masalah yang kecil menjadi besar.

NB: Postingan kali ini merupakan tamparan dan boomerang -terima kasih untuk beberapa orang yang telah mengenalkan istilah ini ke saya-. Karena selama ini saya sering melakukan tindakan bodoh yang kadang merugikan diri sendiri maupun orang-orang di sekitar saya.


Januari 06, 2009

LAWAN!!!

Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau.-GIE-

Hari ini dan kemarin saya mau tertawa rasanya. Ada seorang teman saya yang sedang mengibarkan bendera perang dengan salah seorang dosennya. terus terang saya senang dengan perlawanan yang dia berikan. 7 tahun lamanya (menurut pangakuan dosen itu) tak ada yang berani menentangnya, dan baru tahun ini ada yang berani melawan dia.

Saya sudah memprediksi sebelumnya, bahwa dengan adanya UMRAH yang kontroversial dengan mahasiswanya maka geliat mahasiswa di kampus ini bahkan Batam nantinya akan berubah. kalau selama ini cenderung hedonistik dan monoton maka akan ada sedikit dinamisasi dengan adanya mereka. bukan menghilangkan kalau selama ini tak ada pergerakan mahasiswa di Batam, tapi sedikit orang nekat yang benar-benar ingin merubah. kebanyakan dari mereka adalah orang-orang oportunis yang hanya mengejar keuntungan dari statusnya sebagai mahasiswa.

kembali ke soal dosen dan mahsiswanya tadi, kalau pendapat saya teruskan saja. kalau memang kita yakin dengan apa yang kita lakukan dan dosen tersebut memang salah maka tak ada alasan untuk mundur. meminta maaf mungkin akan membuat kita terlihat lebih berbesar jiwa tapi disaat bersamaan itu akan membuat dia besar kepala. dan tak ada yang lebih berbahaya dari orang sombong yang dibesarkan kepalanya secara sistematis.

bukankah menyombongi orang sombong adalah shadaqah..?

ah, tak tahulah. saya bukan orang yang expert untuk urusan agama seperti ini.

tapi yang pasti ini menyangkut harga diri. bagi saya penyelesaian dengan cara kekeluargaan taklah menyenangkan. peperangan harus dimenangkan salah satu pihak, tak ada kata perdamaian. ini salah satu cara untuk meredam adanya perang berikutnya saya rasa.

Kesendirian, itu hal biasa. saya juga sering mengalami hal seperti itu. dan bukankah seperti yang sudah saya katakan sebelumnya kesendirianlah sahabat yang sejati. karena dia selalu setia menemani dan tak akan mengkhianati. (ini bukan provokasi untuk memutuskan seluruh hubungan pertemanan yang telah terjalin)

tapi sebelum memutuskan lebih jauh, pikirkan dulu matang-matang resikonya. kalkulasi peluang kemenangan itu penting. hingga ketika berperang kita tak hanya modal nekat tapi juga tekad.

Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan -GIE-